Jogja Istimewa : Jangan Hanya Menunggu Bantuan Pemerintah !

 

Hanya dengan selisih dua hari, setelah sebelumnya di Balai Desa Terong, Kec. Dlingo, Kab. Bantul pada Senin (4/12), Tim Klinik Konstruksi DIY tancap gas meneruskan road show-nya menuju Balai Dusun Kadireso, Desa Triwidadi, Kec. Pajangan, Kab. Bantul pada Rabu (6/12). Audiens kali ini ialah perwakilan kelompok masyarakat penggiat/ pengelola infrastruktur air bersih dari Kec. Pajangan, Kec. Sedayu, dan Kec. Kasihan sebanyak 13 orang.

Rendahnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat tekait pentingnya sertifikat keterampilan tukang/ pekerja konstruksi masih menjadi PR bagi pemerintah dalam usahanya mendorong masyarakat agar bisa bersaing dengan pekerja konstruksi lain, baik di tingkat nasional maupun internasional dalam rangka menghadapi MEA. “Sesuai dengan amanat UU No. 2/2017 Tentang Jasa Konstruksi, mulai tahun 2018 pekerja konstruksi yang digunakan oleh pemerintah maupun swasta harus pekerja konstruksi yang bersertifikat,” terang Kusumastuti Sri Winahyu, ST., selaku KaSie Pengembangan Jasa Konstruksi Balai PIPBPJK, dalam layanan Klinik Konstruksi yang berlangsung di Balai Dusun Kadireso. “Sertifikat kompetensi kerja bisa diperoleh melalui uji kompetensi oleh lembaga sertifikasi profesi dan diregistrasi oleh Menteri,” lanjutnya.

Layanan Klinik Konstruksi, pada dasarnya merupakan salah satu layanan dari Balai Pengujian, Informasi Permukiman dan Bangunan Dan Pengembangan Jasa Konstruksi (Balai PIPBPJK) Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Energi Sumber Daya Mineral (Dinas PUP-ESDM) DIY. Layanan ini mulai eksis pada awal tahun 2015 yang setelahnya dikembangkan secara bertahap berupa layanan konsultasi tatap muka dan layanan konsultasi online. Tim Klinik Konstruksi berusaha “membumikan” layanannya agar lebih dekat kepada masyarakat dengan melakukan road show di sejumlah desa/ kelurahan/ kecamatan di wilayah DIY. Hadirnya layanan ini bertujuan untuk memudahkan masyarakat dalam memahami problematika infrastruktur lingkungan permukiman.

“Berbeda dengan Kota Yogyakarta yang bisa dibilang sudah sangat padat dan banyak permukiman kumuh, Kab. Bantul, seperti Kec. Pajangan ini, masih didominasi oleh lingkungan hijaunya. Jadi sebelum terlambat, alangkah baiknya apabila mulai dari sekarang, masyarakat bersama – sama membuat peta perencanaan untuk membangun lingkungan desa menjadi lebih baik.” terang Arianto, ST salah satu narasumber ahli dalam layanan Klinik Konstruksi.

Dalam sesi diskusi, menanggapi pertanyaan masyarakat tentang penanganan limbah usaha ternak ayam dan program pemerintah yang tidak meng-cover semua lokasi atau aspek, Aziz Y Haryono, ST, M.Si, selaku salah satu narasumber ahli menjawab, “Pemerintah memang memiliki banyak program, namun karena berbagai hal, misalnya keterbatasan dana, tidak dapat semuanya langsung tertangani dengan tuntas. Sangat mungkin dibutuhkan waktu tidak singkat untuk menyelesaikan semuanya, sebab pekerjaan tentunya akan dilakukan secara bertahap. Solusi paling sederhana, mudah, dan cepat adalah dengan tidak mengharapkan uluran tangan dari pemerintah. Pemerintah desa setempat ataupun aparat dusun dapat bekerja sama dengan pihak lain seperti LSM untuk mendanai programnya. Sedangkan terkait penanganan limbah peternak yang bandel, masyarakat bisa berembug bersama dengan tetap konsisten mengacu peraturan yang ada dengan cara kekeluargaan, misalnya dengan menanyakan ada atau tidaknya IMB bangunan tersebut atau izin menjalankan usaha dan melakukan pengujian terhadap sampel air yang diduga tercemar pada sekitar bangunan.”

Selain permasalahan tersebut, terdapat juga permasalahan menyangkut saluran irigasi yang kurang baik dan tanah longsor juga banyak terjadi di Kab Bantul. Merespon hal ini, para Narasumber menyarankan bahwa pengurangan dampak limpasan air (hujan) penyebab longsor, dapat dilakukan dengan cara menanam banyak pohon dengan perakaran yang “mencengkam” tanah dan membangun talud perkuatan. Berkenaan dengan saluran irigasi, perlu adanya peta perencanaan teknis yang akan menjadi pedoman saat pembangunan saluran, sehingga air dapat lancar mengalir sampai ke hilir.

Tidak jauh berbeda dengan road show sebelumnya, dialog dalam Klinik Konstruksi juga menyinggung aplikasi “Kang Jogja”. Aplikasi ini merupakan aplikasi yang disusun dan dikelola oleh Balai PIPBPJK yang secara resmi diluncurkan pada tanggal 18 Oktober 2017 yang lalu. Para pekerja konstruksi dapat bergabung dalam “Kang Jogja” secara gratis dengan syarat yang sederhana, yaitu : ber-KTP dengan domisili DIY, memiliki Sertifikat Keterampilan (SKT) yang masih berlaku, nomor kontak yang dapat dihubungi, dan pas foto berwarna ukuran 4 x 6 sebanyak 2 buah. “Kang Jogja”, selain memuat data tenaga kerja konstruksi bersertifikat, juga memuat informasi toko/ distributor/ produsen bahan bangunan di DIY dan tautan terkait informasi harga satuan bahan bangunan terkini yang ada di DIY seperti pada website PIP2B DIY.

Layanan Klinik Konstruksi juga menyediakan berbagai muatan materi berkenaan dengan sektor ke-cipta karya-an yang dapat digunakan oleh masyarakat umum yang awam terhadap bidang konstruksi. Materi – materi ini tersedia dalam berbagai jenis media seperti buku, modul, peraga film dokumenter, peraga animasi 3D, poster, pamflet, dan mockup. Masyarakat yang ingin menggunakan berbagai materi ini dapat melihat ketersediaan materi melalui katalog online di opac perpustakaan PIP2B DIY atau datang langsung ke Gedung Pusat Informasi Pengembangan Permukiman dan Bangunan (PIP2B) DIY, Jl. Kenari No. 14a Yogyakarta.

Seperti biasa, Tim Klinik Konstruksi mengakhiri road show di Balai Dusun Kadireso, Desa Triwidadi, Kec. Pajangan, Kab. Bantul, dengan membagikan secara gratis CD yang berisi materi terkait peningkatan ketahanan permukiman, sanitasi lingkungan permukiman dan animasi infrastruktur berteknologi sederhana. Untuk jadwal selanjutnya, Tim berencana akan membuka lapak konsultasi di Balai Desa Poncosari, Kec. Srandakan, Kab. Bantul pada Senin (11/12).