Sungai: Daerah Yang Rawan Penyakit?
Yogyakarta, Kamis (26/04), Bertempat di Balai Desa Sinduharjo, Kec Ngaglik, Kab. Sleman, misi lanjutan pertama Klinik Konstruksi di Kec. Ngaglik mulai dilakukan. Tema yang diusung pada asistensi teknis kali ini adalah pengelolaan tata kawasan lingkungan permukiman (untuk mendukung penyusunan rencana pembangunan jangka menengah lingkup desa), dengan sasaran peserta yaitu sebanyak 30 orang dari unsur masyarakat penggiat infrastruktur lingkungan permukiman dari Desa Sardonoharjo dan Desa Sinduharjo.
Kedatangan Tim disambut oleh unsur aparat Desa Sinduharjo dan tamu undangan. Hadir sebagai “dokter” untuk misi pendampingan asistensi teknis kali ini yaitu mitra Klinik Konstruksi dari INTAKINDO DIY : Ir. Rokhmad Wahyono (Ahli Sumber Daya Air dan Ahli Teknik Jalan);dan mitra Klinik Konstruksi : Endang Rohjiani, SH. (Fasilitator Pemberdayaan Masyarakat Bidang Kelembagaan Pengelolaan Lingkungan dan Permukiman); dan,Aryanto Nugroho, ST, SE,(Ahli Pemberdayaan Masyarakat Bidang Teknik Pengelolaan Lingkungan dan Permukiman)
“Meskipun sungai memiliki banyak manfaat seperti untuk irigasi, air baku/air minum, budidaya perikanan, rekreasi, dan berbagai manfaat baik lainnya, namun apabila tidak dirawat dan dimanfaatkan dengan benar, keberadaan sungai bisa berdampak negatif untuk masyarakat disekitarnya. Kondisi tebing sungai yang tidak terlindung merupakan daerah yang rawan longsor dan rawan banjir, bahkan di daerah perkotaan sungai seringkali berubah menjadi tempat membuang sampah. Akibatnya, daerah di sepanjang sungai menjadi daerah yang rawan penyakit”,papar Endang Rohjiani.
“Wilayah Kec Ngaglik dilewati oleh beberapa aliran sungai, diantaranya Sungai Gayam, Sungai Bayem, Sungai Buntung, Sungai Boyong, Sungai Pelang, Sungai Kuning, Sungai Klanduhan, dan sebagainya. Oleh karena itulah, masyarakat harus bersama-sama menjaga sumber daya ini agar di masa mendatang tetap dapat bermanfaat. Salah satu cara yang bisa dilakukan yaitu dengan menyusun dan menerbitkan peraturan desa terkait pengelolaan lingkungan dan sumber daya alam”,tegas Aryanto.
Tim Klinik Konstruksi mengakhiri asistensi teknis di Desa Sinduharjoi ni dengan sesi diskusi dan tanya jawab bersama peserta pendampingan. Bagi masyarakat yang menginginkan pendampingan lebih lanjut, bisa menghubungi langsung para konsultan ahli atau datang langsung ke Kantor Pusat Informasi Pengembangan Permukiman dan Bangunan (PIP2B) DIY; d/a : Jl. Kenari 14A, Yogyakarta; atau di Gedung Kantor Balai Pengujian, Informasi Permukiman dan Bangunan Dan Pengembangan Jasa Konstruksi (Balai PIPBPJK); d/a : Jl. Ring Road Utara, Maguwoharjo, Depok, Sleman. atau dapat pula dengan cara mengujungi situs resmi Klinik Konstruksi DIY yaitu : www.klinikkonstruksi-diy.com yang didukung dengan situs : www.pip2bdiy.com (kedua situs tersebut saat ini dalam proses migrasi ke www.klinikkonstruksi.jogjaprov.go.id), untuk mendapatkan layanan konsultasi melalui situs (online).
Dalam waktu yang dekat, masih di kecamatan yang sama, tim berencana akan berkunjung ke Desa Sukoharjo dan Desa Sariharjo untuk meneruskan rangkaian agenda asistensi teknis.