post-image

Lanjutkan Misi Pendampingan, Klinik Konstruksi DIY Goes to Bantul

 

Keseriusan Balai PIPBPJK DIY dalam usaha ‘membumikan’ Layanan Klinik Konstruksi tahun 2018 mendapat apresiasi yang cukup baik dari masyarakat Bantul. Menggandeng INTAKINDO, Layanan Klinik Konstruksi kembali menggelar sosialisasi pengenalan Layanan Klinik Konstruksi di Balai Desa Trirenggo, Kec. Bantul, Kab. Bantul DIY, pada Selasa (28/8)

Selain bertujuan untuk mengenalkan layanan Klinik Konstruksi kepada masyarakat, kemunculan perdana Tim Klinik Konstruksi di Kecamatan Bantul juga untuk melanjutkan misi pendampingan terkait pengelolaan tata kawasan lingkungan permukiman.

Kedatangan Tim disambut oleh unsur aparat Desa Trirenggo dan perwakilan Dinas PUP-KP Kabupaten Bantul, serta tamu undangan sebanyak 40 orang yang terdiri dari perwakilan Tim Pengelola Kegiatan (TPK) Desa dari 19 desa pada 5 kecamatan di Bantul (Kasian, Bambanglipuro, Jetis, Pundong, dan Bantul). Hadir sebagai “dokter”, mitra dari INTAKINDO yaitu, Ahli Arsitektur Bapak Ari Agung Nugroho, S.T., M.Sc. dan Ahli Teknik Lingkungan, Ibu Warniningsih, ST., M.Kes.

“Sebagai wujud inovasi pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan di sektor infrastruktur lingkungan permukiman oleh Dinas PUP-ESDM DIY, melalui Balai PIPBPJK DIY Layanan Klinik Konstruksi ini diadakan” jelas Budi Prastowo, ST., selaku Kepala Seksi Pengembangan Jasa Konstruksi Balai PIPBPJK dalam sambutannya.

Layanan klinik konstruksi terbentuk dengan dilatarbelakangi oleh banyaknya kerusakan infrastruktur permukiman akibat bencana gempa bumi di Yogayakarta pada Mei 2006 dan erupsi Gunung Merapi di Sleman pada Oktober-November 2010. Kebutuhan masyarakat akan adanya media konsultasi teknik terkait cara membuat, mengembangkan, mengamankan, memperbaiki, memperkuat rumah tinggal dan berbagai sarana pendukung lainnya sangat besar, mengingat Yogyakarta merupakan daerah yang rawan bencana.

Untuk itulah hadir Klinik Konstruksi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan adanya informasi, rujukan dan advokasi teknis terkait infrastruktur lingkungan permukiman. Kegiatan ini ditanggapi dengan antusias oleh masyarakat, meskipun ada sebagian masyarakat yang masih belum memahami pentingnya infrastruktur permukiman yang aman dan layak.

“Dari seluruh permasalahan yang ada, pola pikir masyarakat masih menjadi salah satu permasalahan yang paling penting.” buka Ari saat menyampaikan materi. “Mengubah pola pikir masyarakat menjadi prioritas utama yang harus dilakukan sebelum masyarakat bisa menyelesaikan permasalahan lain terkait infrastruktur permukiman,” lanjutnya.

“Meskipun ada berbagai peraturan terkait infrastruktur yang telah ditetapkan oleh pihak-pihak yang berwenang, tanpa adanya dukungan dan kerjasama dari masyarakat peraturan tersebut tidak akan berguna dan tidak dapat diterapkan. Pemerintah dan masyarakat harus bekerjasama untuk mewujudkan lingkungan permukiman yang sehat, aman, dan nyaman.” tutup Warniningsih.

Berdasarkan hasil diskusi dan penjaringan permasalahan dengan masyarakat, pendampingan lebih lanjut akan diadakan sesuai tingkat urgensi permasalahan yang telah dipetakan. Untuk jadwal selanjutnya, Tim berencana akan melanjutkan misi pendampingan di beberapa desa di wilayah Kabupaten Bantul. (Dv)